I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Plankton
adalah suatu organisme yang berukuran kecil yang hidupnya terombang ambing oleh arus di laut
bebas. Mereka terdiri dari
makhluk-makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan
(phytoplankton). Kecilnya ukuran
plankton tidaklah mengandung arti bahwa mereka adalah organisme yang kurang
penting. Mereka merupakan sumber makanan
bagi ikan komersial yang penting yang hidup di lautan. Dengan kata lain, kelangsungan hidup ikan
bergantung pada jumlah plankton yang ada.
Ikan merupakan salah satu makanan penting bagi manusia, secara tidak
langsung makanan yang kita makanpun tergantung pada mereka (Hutabarat, 1986).
Fitoplakton merupakan nama untuk plankton tumbuhan atau
plankton nabati. Ukurannya sangat kecil,
tak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Ukuran yang paling umum berkisar antara 2 ± 200 mikro meter (1
mikro meter = 0,001 mm). Fitoplankton
umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi ada juga yang membentuk rantai. Meskipun fitoplankton membentuk sejumlah
besar biomassa di laut, kelompok ini hanyadiwakili oleh beberapa filum
saja. Sebagian besar bersel satu dan
mikroskopik, dan termasuk filum Chrysophyta, yakni alga kuning-hijau
yang meliputi diatom dan kokolifotor. Selain
ini terdapat beberapa jenis alga hijau-biru (Cyanophyta), alga coklat (Phaeophyta)
dan satu kelompok besar dari Dinoflagellata (Pyrophyta). Anggota fitoplankton yang merupakanminoritas
adalah berbagai alga hijau biru (Cyanophyceae), kokolitofor (Coccolithophoridae,
Haptophyceae), dan silicoflagellata (Dictyochaceae, Chrysophyceae)
Fitoplankton secara umum membuhtuhkan faktor-faktor
pendukung untuk membantu proses
pertumbuhannya. Faktor-faktor tersebut
antara lain suhu, intensitas cahaya dan CO2
(Fogg, 1965). Permasalahan yang
timbul pada setiap kultur diantaranya
adalah populasi yang tidak stabil dalam setiap panennya bahkan cendrung mengalami drop sehingga ketersediaannya
berkurang dan tidak kotinu lagi. Hal ini
disebabkan factor-faktor pendukung pertumbuhannnya kurang optimal, dalam hal
ini adalah CO2. Oleh karna itu
diperlukan kandungan CO2 yang memadai pada media kulturnya
1.2.Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk
menentukan Pengaruh Perbedaan
Temperatur Terhadap Variasi Pertumbuhan Populasi Oscillatoria sp Skala
laboratorium. Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah
sebagai bahan informasi awal tentang perbedaan temperatur
terhadap variasi pertumbuhan populasi Oscillatoria sp pada media kultur yang memberikan
pertumbuhan optimal untuk pengembangan budidaya Oscillatoria sp sebagai pakan alami.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Klasifikasi dan Morfologi Oscillatoria sp
Klasifikasi Oscillatoria sp menurut
Surosos A. Y, 1992:
Kingdom :
Plantae
Divisio : Cyanophyta
Classis : Cyanophceae
Ordo : Hormogenales
Sub ordo : Oscillatoriales
Familia : Oscillatoriae
Genus : Oscillatoria
Species : Oscillatoria sp

Gambar.1
oscillatoria sp
Oscillatoria
sp
yang diambil dari kata oscilla yaitu
bergetar, berbentuk benang tebal terdiri atas sel-sel pipih dan dapat bergerak
dengan cara bergetar. Oscillatoria sp terdiri atas berbagai
jenis yaitu Oscillatoria acuminata
merupakan salah satu jenis Oscillatoria
yang sel ujungnya meruncing, Oscillatoira
foreani yaitu Oscillatoria yang
benang koloninya kecil, Oscillatoria
probocidae ujung koloninya seperti belalai, Oscillatoria princeps ujung koloninya berbentuk kepala.
Oscillatoria sp adalah genus dari cyanobacteria yang
berfilamen. Ia dinamakan Oscillatoria sp karena
gerakannya yang berosilasi. Oscilatoria sp biasanya hidup dan banyak
ditemukan pada lingkungan air tawar, termasuk mata air panas. Filamen dalam koloni Oscillatoria sp dapat bergeser kedepan dan kebelakang berlawanan
dengan yang lainnya hingga seluruh massanya mendapatkan cahaya dari sumber
cahaya. Biasanya berwarna hijau-biru
atau hijau-coklat. Oscillatoria sp bereproduksi dengan cara fragmentasi. Ia membentuk
filamen sel panjang yang terpatah-patah menjadi beberapa fragmen yang disebut
hormogonia.
Hormogonia dapat tumbuh menjadi filamen baru yang lebih
panjang. Pematahan dalam filamen
biasanya terjadi dimana adanya sel mati / necridia. Oscillatoria sp menggunakan
fotosintesis untuk reproduksi dan bertahan hidup. Tiap filamen pada Oscillatoria sp terdiri dari trikoma yang terdiri dari barisan
sel. Ujung dari trikoma berosilasi
seperti pendulum (Nybakken,1992).
Fitoplankton
hanya dapat dijumpai pada lapisan permukaan saja karena mereka hanya dapat
hidup di tempat-tempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup untuk melakukan
fotosintesis. Mereka akan lebih banyak
dijumpai pada tempat yang terletak di daerah continental shelf dan di sepanjang
pantai dimana terdapat proses upwelling.
Daerah ini biasanya merupakan suatu daerah yang cukup kaya akan
bahan-bahan organic (Hutabarat dan Evans, 1985).
Meskipun
ukurannya sangat kecil, namun fitoplankton dapat tumbuh dengan sangat lebat dan
padat sehingga dapat menyebabkan perubahan warna pada air laut. Fitoplankton mempunyai fungsi penting di
laut, karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan
organik untuk makanannya. Selain itu, fitoplankton
juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik
karena mengandung klorofil. Karena kemampuannya ini, fitoplankton disebut
sebagai produser primer (Hutabarat,
1986).
Bahan
organik yang diproduksi fitoplankton menjadi sumber energi untuk menjalani
segala fungsinya. Tetapi, di samping itu
energi yang terkandung di dalam fitoplankton dialirkan melalui rantai
makanan. Seluruh hewan laut seperti
udang, ikan, cumi-cumi, sampai ikan paus yang berukuran raksasa bergantung pada
fitoplankton baik secara langsung atau tidak langsung melalui rantai makanan (Hutabarat, 1986)
2.2 Pertumbuhan
Menurut Effendie (1997), bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh
beberapa faktor baik itu faktor yang berasal dari individu itu sendiri maupun
berasal dari faktor luar atau faktor lingkungan. Faktor dalam umumnya adalah yang sulit
dikontrol seperti keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit, sedangkan faktor
luar meliputi makanan dan lingkungan perairan. Serta kekeruhan yang tinggi mengakibatkan pertumbuhan
organisme yang menyesuaikan diri pada air yang jernih menjadi terhambat dan
dapat pula menyebabkan kematian karena mengganggu proses respirasi (Hutagalung
et al., 1997).
Cahyaningsih, dkk (2005), menyatakan bahwa selama masa
inkubasi fitoplankton mengalami proses pertumbuhan yang di bagi menjadi 4
fase yaitu :
1. Fase Adaptasi 3.
Fase Stasioner
2. Fase Logaritmik/eksponensial 4. Fase Kematian
1).
Fase Adaptasi
Disebut juga lag fase yakni pada fase ini sel melakukan
adaptasi terhadap lingkungannya dan
mulai melakukan metabolisme namun belum terjadi pertambahan sel.
2).
Fase Logaritmik/eksponensial
Fase
ini merupakan fase dimana pertumbuhan fitoplankton terjadi dengan cepat
sehingga terjadi pertambahan jumlah sel yang sangat signifikan.
3).
Fase Stasioner
Fase stasioner atau yang sering disebut fase
pertumbuhan tetap ialah fase dimana laju reproduksi seimbang dengan laju
kematian. Fase ini merupakan puncak
pertumbuhan populasi fitoplankton.
4).
Fase Kematian
Fase
kematian ialah fase dimana laju pertumbuhan lebih kecil dari pada laju
kematian, karena disebabkan oleh penurunan kemampuan metabolisme dari
fitoplankton.
2.3. Cara Kultur
Menurut
Sudjiharno (2002), kultur fitoplankton memerlukan kondisi lingkungan yang
terkendali, olehnya itu perlu dilengkapi dengan AC (Air Conditioner) agar suhu
ruangan selalu terkendali dan ruangan terisolasi dari lingkungan luar yang
dapat menyebabkan kontaminasi. Lebih lanjut ditambahkan bahwa dalam kultur
skala laboraturium, kesterilan alat, bahan dan air media yang akan digunakan
sangat dibutuhkan sehingga bebas dari kontaminasi organisme lain seperti jenis
fitoplankton lainnya, zooplankton, protozoa dan bakteri yang bisa menjadi kompetitor
dan predator bagi fitoplankton yang dikultur.
Kultur Oscillatoria sp. skala laboraturium dilakukan dengan beberapa
tahapan yakni tahap isolasi, kultur di media agar dan kultur di media
cair. Kultur Oscillatoria sp. di media
cair dilakukan secara bertahap atau dilakukan dengan kultur bertingkat dimulai
dari kultur dalam tabung reaksi volume 10 ml (test tube) sampai kultur pada
wadah yang lebih besar mulai dari 100 ml – 5 liter (isnansetyo dan kurniastuty,
1995). Selanjutnya dikemukanan bahwa
sebelum dilakukan penebaran bibit/inokulum, air media yang telah disterilkan
perlu dipupuk terlebih dahulu.
Menurut Gusrina (2008), penebaran bibit
fitoplankton harus dilakukan secara tepat, dimana bibit yang akan ditebar ke
dalam media harus yang sudah dewasa. Volume
bibit atau jumlah bibit yang yang dibutuhkan untuk penebaran dapat dihitung
dengan rumus :
V1N1=
V2N2
Dimana
:
V1 : Volume bibit yang diperlukan (ml)
V2 : Volume kultur yang dibuat dalam gelas erlemeyer (ml)
N1 : Jumlah bibit per cc yang ditebar (sel/ml)
N2 : Jumlah bibit yang dikehendaki (sel/ml).
2.4. Komposisi dan Kelimpahan
Plankton
Penyebaran
fitoplankton lebih merata dibandingkan dengan zooplankton karena kondisi
perairan yang memungkinkan produksi fitoplankton seperti sifat fototaksis
positif yang dimiliki dan menyenangi sinar dan mendekati cahaya.
Siklus
pembelahan sel pada fitoplankton relatif lebih singkat daripada zooplakton. Sehingga
untuk mencapai jumlah yang banyak bagi zooplankton diperlukan waktu yang lama.
Selanjutnya dikatakan bahwa copepoda merupakan hewan pemakan fitoplakton yang
sangat efisien dan ternyata dapat menurunkan kepadatan populasi fitoplankton
secara mencolok di perairan (Nybakken, 1992).
2.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Penyebaran Plankton
2.5.1. Suhu
Suhu
di lautan adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme
di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun
perkembangan dari organisme. Oleh karena
itu tidak mengherankan jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis hewan yang
terdapat di berbagai tempat di dunia (Hutabarat dan Evans, 1985).
Suhu
mempengaruhi daur hidup organisme dan merupakan faktor pembatas penyebaran
suatu jenis dalam hal ini mempertahankan kelangsungan hidup, reproduksi,
perkembangan dan kompetisi (Krebs, 1985). Sedangkan menurut Dawes (1981)
suhu yang baik bagi biota laut untuk hidup normal adalah 20 -35 ÂșC
dengan fluktuasi tidak lebih dari 5 ÂșC. Menurut Ray dan Rao (1964) dalam Dawson
(1979) suhu yang baik untuk kelimpahan zooplankton di daerah tropika secara
umum berkisar antara 24˚C – 30˚C.
2.5.2. Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi rata-rata seluruh garam yang
terdapat di dalam air laut. Konsentrasi ini biasanya sebesar 3% dari berat
seluruhnya atau sering juga disebut bagian perseribu (permil) dan biasa ditulis
dengan 35‰ (Sachlan, 1982).
Hampir semua organisme laut dapat hidup pada daerah yang
mempunyai perubahan salinitas yang sangat kecil, misalnya daerah estuaria
adalah daerah yang mempunyai salinitas rendah karena adanya sejumlah air tawar
yang masuk yang berasal dari daratan dan juga disebabkan karena adanya pasang
surut di daerah ini kisaran salinitas yang normal untuk kehidupan organisme di
laut adalah berkisar antara 30 – 35 ppm (Gosari, 2002).
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme
terjadi di zona intertidal melalui dua cara.
Yang pertama karena zona intertidal terbuka pada saat pasang surut dan
kemudian digenangi air atau aliran air akibat hujan lebat, akibatnya salinitas
akan turun secara drastis (Nybakken, 1992).
2.5.3.
Potensial Hidrogen (pH)
pH
adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan suasana air
tersebut, apakah bereaksi asam atau basa. Skala pH mempunyai deret 1-14, dan pH
7 adalah netral berarti air tidak bersidat asam atau basa. Bila materi pH
dibawah 7 berarti asam dan bila diatas 7 berarti basa pH merupakan pengukuran
asam atau basa suatu larutan. Keasaman
terjadi karena berlebihnya ion H+ pada suatu larutan, sedangkan
alkalinitas terjadi karena berlebihnya ion OH- pada suatu
larutan. Potensial hidrogen atau sifat
keasaman atau basa (alkalinitas) suatu larutan sangatlah penting dalam faktor
kelarutan dalam air laut terutama terhadap pengendapan mineral atau unsur-unsur
dan kehidupan organisme pada suatu kondisi tertentu (Hutabarat dan Evans,
1985). Menurut CHALIK (1988.)
2.5.4. DO
Oksigen yang terdapat dalam air laut terdiri dari dua bentuk
senyawa, yaitu terikat dengan unsur lain dan sebagai molekul bebas. Kelarutan molekul oksigen yang terdapat dalam
air laut dipengaruhi secara fisika, sebagai contoh kelarutannya sangat
dipengaruhi oleh suhu air. Sumber utama oksigen dalam air laut berasal dari
udara melalui proses difusi dan dari hasil fotosintesis fitoflankton pada siang
hari faktor-faktor yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam air laut adalah
kenaikan suhu air, respirasi (khususnya malam hari), adanya lapisan minyak di
atas permukaan air laut dan masuknya limbah organik yang mudah terurai
(Hutagalung et al., 1997).
Oksigen
terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam
air. Pada perairan tawar, kadar oksigen terlarut bekisar antara 15 mg/L pada
suhu 0oC dan 8 mg/L pada suhu 25oC. Kadar oksigen
terlarut pada perairan alami biasanya kurang dari 10 mg/L (Effendi, 2003).
Hubungan antara konsentrasi oksigen terlarut dalam air dan kondisi ikan di
dalamnya menurut Erna et all., (1998),
III. METODE PENELITIAN
3.1.
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2013. Penelitian
bertempat di Laboratorium Plankton dan Kualitas Air Balai Penelitian dan
Pengembangan Budidaya Air Payau
(BPPBAP), Maros.
3.2. Materi
Penelitian
3.2.1.
Organisme Uji
Organisme uji yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah diatom jenis Oscillatoria
sp.
3.2.2. Bahan dan Alat
Bahan
dan alat yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel
2:
Tabel 1. Bahan yang
di gunakan dalam penelitian.
|
No
|
Jenis
bahan
|
Kegunaan
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Oscillaoria sp
Air laut steril 30‰
Air tawar / aquades
Etanol
|
Sebagai organisme uji
Media kultur Oscillatoria
sp
Untuk menetralisir alat
Untuk mengawetkan Oscillatoria
sp
|
Tabel
2. Jenis alat dan kegunaannya dalam
penelitian.
|
No
|
Jenis alat
|
Kegunaan
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
|
Spidol
snowman
Witeboard
Blower
Tabung karbondioksida (CO2)
konsentrasi 750 ppm dan 1000 ppm
Kabel listrik
Toples
kaca / plastik
Stiropoam
Slang aerasi
Batu aerasi
Krang aerasi
Spoit
Lakban warna kuning
Gunting
DO meter
pH meter
Thermometer
Automatic
aquarium heater
Talenan
Gelas ukur
Cover
glas
Mikropipet
Botol sampel
Mikroskop Olympus BX 40
Stapol
Adaptor
Haemocytometer
Kaca preparat kecil
Tissue
Kanebo
Buku
Pensil
Hand
caunter (alat hitung)
Calculator
|
Alat
penanda label
Papan untuk menulis penjelasan
penelitian
Menyuplai
oksigen
Menyuplai
CO2
Penyambung
listrik untuk blower
Wadah
pemeliharaan Oscillatoria sp
Tempat
penyimpanan wadah/toples
Penyuplai
aerator
Penghasil
gelembong CO2
Untuk
mengatur besar kecilnya aerator
Alat
untuk mengambil sampel
Sebagai
label setiap toples
Untuk
memotong alat
Untuk mengukur konsentrasi oksigen
terlarut
Untuk
mengukur derajat keasaman
Mengukur
suhu
Untuk menaikkan suhu
Untuk menyipan botol sampel
Tempat
air pembilas haemocytometer
Gelas
penutup sampel
Alat
pengambil sampel
Alat
menyimpan sampel
Alat
untuk mengamati Oscillatoria sp
Alat bantu monitor mikroskop
Alat bantu monitor mikroskop
Alat menghitung kepadatan Oscillatoria
sp
Penutup
haemocymeter
Untuk
membersihkan haemocytometer
Untuk
membersihkan alat
Tempat
untuk mencatat hasil
Untuk
mencatat hasil
Sebagai alat menghitung kepadatan Oscillatoria sp
Alat untuk hasil akhir kepadatan Oscillatoria sp
|
3.3.
Metode Penelitian
3.3.1. Perlakuan
Perlakuan yang akan dicobakan selama
penelitian adalah :
Perlakuan A : suhu 300 Celcius
Perlakuan B : suhu 320 Celcius
Perlakuan C : suhu 340 Celcius
30
3.3.2.
Cara Kerja
Hal
yang pertama dilakukan adalah menyiapkan wadah dan peralatan yang akan
digunakan. Wadah yang digunakan berupa
toples plastik berkapasitas 2 liter,
wadah dan peralatan yang akan digunakan terlebih dahulu dicuci dengan
menggunakan deterjen dan kaporit sebanyak 100 ppm. Selanjutnya wadah dan peralatan tersebut dinetralkan
dengan natrium thiosulfat 50 ppm.
Wadah
yang telah disiapkan diisi dengan air laut steril sebanyak 1000 ml. Setelah itu dilakukan penebaran bibit Oscillatoria sp. sebanyak 80 x 104 sel/ml untuk setiap wadah
penelitian. Hal ini sesuai dengan
pendapat Nukiyama (1976) dalam Muhaimin (2008) bahwa dalam kultur Oscillatoria sp. digunakan air laut sebanyak 80 – 90% dengan
padat penebaran awal 100.000 – 800.000 sel/ml.
Wadah tersebut kemudian diletakkan pada rak-rak (styropoam) kultur lalu
diberi pencahayaan dengan lampu TL 20 watt sebanyak 2 buah untuk setiap
perlakuan. Selama penelitian berlangsung
wadah ditutup dan air medianya diberi aerasi terus menerus untuk menghindari
pengendapan Oscillatoria sp., dan
juga untuk menyuplai CO2.
3.3.3
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang akan
dipergunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak menggunakan 3 perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga banyaknya satuan percobaan
adalah 9 unit.
3.4
Parametar yang Diamati
3.4.1
Kepadatan Oscillatoria sp.
Pertumbuhan fitoplankton dalam kultur
dapat ditandai dengan bertambah banyaknya jumlah sel (kepadatan sel) (Takdir,
1990). Pertumbuhan populasi Oscillatoria sp. pada penelitian ini dilakukan setiap 24 jam
sekali dengan mengambil air sampel sebanyak 1 ml/unit percobaan.
Untuk menghitung kepadatan sel Oscillatoria sp., digunakan haemocytometer. Mula-mula air sampel atau plankton tersebut diambil dengan menggunakan
pipet kemudian diberi etanol untuk mengawetkan atau mematikan sel Oscillatoria sp sebelum diteteskan
diatas haemocytometer untuk memudahkan perhitungan, selanjutnya kepadatan sel
dihitung dibawah mikroskop Olympus BX40 yang dilengkapi monitor dengan bantuan alat penghitung (hand
counter). Kepadatan sel populasi Oscillatoria sp. Untuk setiap ml nya dihitung dengan
menggunakan rumus menurut Mudjiman (2007 ).
∑Sel/ml
= N x 104
Dimana
: N = jumlah rata-rata sel.
3.4.3.
Pengukuran Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diamati
dalam penelitian ini adalah Suhu, pH, dan
DOmeter. Parameter kualitas air, alat yang digunakan, dan waktu pengamatan
tercantum pada Tabel 3. berikut :
Tabel
3. Parameter Kualitas Air yang Diukur ,
Alat/Metode yang Digunakan, dan Waktu
Pengamatan Selama Penelitian
|
No
|
Parameter
|
Metode
|
Satuan
|
Alat
ukur
|
|
1.
|
Suhu
DO
|
Pembaca
skala
|
ÂșC
|
Termometer
|
|
2.
|
DO
|
Pembaca
skala
|
mg/l
|
DO
Meter
|
|
3.
|
pH
|
Pembaca
skala
|
-
|
pH
meter
|
|
4.
|
Suhu termometer
|
Pembaca
skala
|
mg/l
|
-
|
3.5
Analisa Data
Jika terdapat pengaruh nyata dari perlakuan yang diberikan,
maka akan dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur).
DAFTAR PUSTAKA
Cahyaningsih, S., Achmad, N.,Sugeng,
J.P., 2005. Kultur Murni Phytoplankton.
Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai
Budidaya Air Payau Situbondo.
Dawes,
1981. Pakan Ikan Alami. Kanisius. Yogyakarta.
Dawson
1979. Kultur Plankton-BBAP. Ditjen
Perikanan. Jepara.
Effendie,
M. I., 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
Effendi,H. 2003. Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta
Erna, et. All. 1998. Studi Ekologi Fitoplankton di Waduk Wonorejo Desa
Wonorejo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
Foog, G. F, 1965. Algal culuters and phytoplankton
ecology. The University of Wisconsin
Press, London. 126 hal.
Gusrina,
2008. Budidaya Ikan Jilid II. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Gosari, 2002. Teknik
Kultur Phitoplankton dan Zooplankton.
Penerbit Kanisius.
Hutabarat,Sahala. 1985 .Pengantar oceanografi. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Hutabarat, Sahala dan Stetwart M.
Evans. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Hutagalung et al., 1997. Pengaruh Dosis Abu Sekam Padi Terhadap
Pertumbuhan Oscillatoria sp. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Muslim Indonesia, Makassar.
Isnansetyo, A dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phitoplankton dan Zooplankton. Penerbit Kanisius.
Kreps,
1985. Pengaruh Beberapa Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Oscillatoria sp. Fakultas Pasca
Sarjana. Istitut Pertanian Bogor.
Mudjiman,
A., 2007. Makanan Ikan Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nybakken, James W, 1992. Biologi
laut,suatu pendekatan ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Sudjiharno, 2002. Budidaya
Fitoplankton dan Zooplankton. Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat
Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Budidaya Laut Lampung.
Surosos, A. Y. 2007. Budidaya
Fitoplankton Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya, Balai Budidaya Laut Lampung.
Sachlan, M.
1982. Planktonologi. UNDIP: Semarang.
Takdir, 1990. Pengaruh Abu Sekam Padi
Terhadap Pertumbuhan Oscillatoria sp.
Jurnal Penelitian Budidaya Pantai, Balai
Penelitian Perikanan Budidaya Pantai.Maros.
wal hasil
