Minggu, 01 September 2013

oscilla toria



I.                   PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Plankton adalah suatu organisme yang berukuran kecil yang hidupnya terombang ambing oleh arus di laut bebas.  Mereka terdiri dari makhluk-makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (phytoplankton).  Kecilnya ukuran plankton tidaklah mengandung arti bahwa mereka adalah organisme yang kurang penting.  Mereka merupakan sumber makanan bagi ikan komersial yang penting yang hidup di lautan.  Dengan kata lain, kelangsungan hidup ikan bergantung pada jumlah plankton yang ada.  Ikan merupakan salah satu makanan penting bagi manusia, secara tidak langsung makanan yang kita makanpun tergantung pada mereka (Hutabarat, 1986).
Fitoplakton merupakan nama untuk plankton tumbuhan atau plankton nabati.  Ukurannya sangat kecil, tak dapat dilihat dengan mata telanjang.  Ukuran yang paling umum berkisar antara 2 ± 200 mikro meter (1 mikro meter = 0,001 mm).  Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi ada juga yang membentuk rantai.  Meskipun fitoplankton membentuk sejumlah besar biomassa di laut, kelompok ini hanyadiwakili oleh beberapa filum saja.  Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik, dan termasuk filum Chrysophyta, yakni alga kuning-hijau yang meliputi diatom dan kokolifotor.  Selain ini terdapat beberapa jenis alga hijau-biru (Cyanophyta), alga coklat (Phaeophyta) dan satu kelompok besar dari Dinoflagellata (Pyrophyta).  Anggota fitoplankton yang merupakanminoritas adalah berbagai alga hijau biru (Cyanophyceae), kokolitofor (Coccolithophoridae, Haptophyceae), dan silicoflagellata (Dictyochaceae, Chrysophyceae)
Fitoplankton secara umum membuhtuhkan faktor-faktor pendukung untuk membantu  proses pertumbuhannya.  Faktor-faktor tersebut antara lain suhu, intensitas cahaya dan CO2  (Fogg, 1965).  Permasalahan yang timbul pada setiap kultur  diantaranya adalah populasi yang tidak stabil dalam setiap panennya bahkan cendrung  mengalami drop sehingga ketersediaannya berkurang dan tidak kotinu lagi.  Hal ini disebabkan factor-faktor pendukung pertumbuhannnya kurang optimal, dalam hal ini adalah CO2.  Oleh karna itu diperlukan kandungan CO2 yang memadai pada media kulturnya

1.2.Tujuan dan Kegunaan
Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk  menentukan  Pengaruh Perbedaan Temperatur Terhadap Variasi Pertumbuhan Populasi  Oscillatoria sp Skala laboratorium.  Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi awal tentang perbedaan temperatur terhadap variasi pertumbuhan populasi  Oscillatoria sp pada media kultur yang memberikan pertumbuhan optimal untuk pengembangan budidaya Oscillatoria  sp  sebagai pakan alami.


                          
   II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Klasifikasi dan Morfologi  Oscillatoria sp
     Klasifikasi Oscillatoria sp menurut Surosos A. Y, 1992:
                        Kingdom         :  Plantae
Divisio             :  Cyanophyta
Classis              :  Cyanophceae
Ordo                 :  Hormogenales
Sub ordo           :  Oscillatoriales
Familia              :  Oscillatoriae
Genus                :  Oscillatoria
Species              :  Oscillatoria sp
Gambar.1 oscillatoria sp      
Oscillatoria sp yang diambil dari kata  oscilla yaitu bergetar, berbentuk benang tebal terdiri atas sel-sel pipih dan dapat bergerak dengan cara bergetar.  Oscillatoria sp terdiri atas berbagai jenis yaitu Oscillatoria acuminata merupakan salah satu jenis Oscillatoria yang sel ujungnya meruncing, Oscillatoira foreani yaitu Oscillatoria yang benang koloninya kecil, Oscillatoria probocidae ujung koloninya seperti belalai, Oscillatoria princeps ujung koloninya berbentuk kepala. 
Oscillatoria sp adalah genus dari cyanobacteria yang berfilamen. Ia dinamakan Oscillatoria sp karena gerakannya yang berosilasi.  Oscilatoria sp biasanya hidup dan banyak ditemukan pada lingkungan air tawar, termasuk mata air panas.  Filamen dalam koloni Oscillatoria sp dapat bergeser kedepan dan kebelakang berlawanan dengan yang lainnya hingga seluruh massanya mendapatkan cahaya dari sumber cahaya.  Biasanya berwarna hijau-biru atau hijau-coklat.  Oscillatoria sp bereproduksi dengan cara fragmentasi. Ia membentuk filamen sel panjang yang terpatah-patah menjadi beberapa fragmen yang disebut hormogonia. 
Hormogonia dapat tumbuh menjadi filamen baru yang lebih panjang.  Pematahan dalam filamen biasanya terjadi dimana adanya sel mati / necridia.  Oscillatoria sp menggunakan fotosintesis untuk reproduksi dan bertahan hidup.  Tiap filamen pada Oscillatoria sp terdiri dari trikoma yang terdiri dari barisan sel.  Ujung dari trikoma berosilasi seperti pendulum (Nybakken,1992).
Fitoplankton hanya dapat dijumpai pada lapisan permukaan saja karena mereka hanya dapat hidup di tempat-tempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup untuk melakukan fotosintesis.  Mereka akan lebih banyak dijumpai pada tempat yang terletak di daerah continental shelf dan di sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling.  Daerah ini biasanya merupakan suatu daerah yang cukup kaya akan bahan-bahan organic (Hutabarat dan Evans, 1985).
Meskipun ukurannya sangat kecil, namun fitoplankton dapat tumbuh dengan sangat lebat dan padat sehingga dapat menyebabkan perubahan warna pada air laut.  Fitoplankton mempunyai fungsi penting di laut, karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik untuk makanannya.  Selain itu, fitoplankton juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik karena mengandung klorofil. Karena kemampuannya ini, fitoplankton disebut sebagai produser primer (Hutabarat, 1986).
Bahan organik yang diproduksi fitoplankton menjadi sumber energi untuk menjalani segala fungsinya.  Tetapi, di samping itu energi yang terkandung di dalam fitoplankton dialirkan melalui rantai makanan.  Seluruh hewan laut seperti udang, ikan, cumi-cumi, sampai ikan paus yang berukuran raksasa bergantung pada fitoplankton baik secara langsung atau tidak langsung melalui rantai makanan (Hutabarat, 1986)

2.2 Pertumbuhan     
Menurut Effendie (1997), bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu faktor yang berasal dari individu itu sendiri maupun berasal dari faktor luar atau faktor lingkungan.  Faktor dalam umumnya adalah yang sulit dikontrol seperti keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit, sedangkan faktor luar meliputi makanan dan lingkungan perairan. Serta  kekeruhan yang tinggi mengakibatkan pertumbuhan organisme yang menyesuaikan diri pada air yang jernih menjadi terhambat dan dapat pula menyebabkan kematian karena mengganggu proses respirasi (Hutagalung et al., 1997).
Cahyaningsih, dkk (2005), menyatakan bahwa selama masa inkubasi fitoplankton mengalami proses pertumbuhan yang di bagi menjadi 4 fase  yaitu :
 1. Fase Adaptasi                                3. Fase Stasioner
2. Fase Logaritmik/eksponensial         4. Fase Kematian
1). Fase Adaptasi
Disebut juga lag fase yakni pada fase ini sel melakukan adaptasi terhadap   lingkungannya dan mulai melakukan metabolisme namun belum terjadi pertambahan sel.
2). Fase Logaritmik/eksponensial
            Fase ini merupakan fase dimana pertumbuhan fitoplankton terjadi dengan cepat sehingga terjadi pertambahan jumlah sel yang sangat signifikan.
3). Fase Stasioner
             Fase stasioner atau yang sering disebut fase pertumbuhan tetap ialah fase dimana laju reproduksi seimbang dengan laju kematian.  Fase ini merupakan puncak pertumbuhan populasi fitoplankton.
4). Fase Kematian
            Fase kematian ialah fase dimana laju pertumbuhan lebih kecil dari pada laju kematian, karena disebabkan oleh penurunan kemampuan metabolisme dari fitoplankton.


2.3. Cara Kultur
            Menurut Sudjiharno (2002), kultur fitoplankton memerlukan kondisi lingkungan yang terkendali, olehnya itu perlu dilengkapi dengan AC (Air Conditioner) agar suhu ruangan selalu terkendali dan ruangan terisolasi dari lingkungan luar yang dapat menyebabkan kontaminasi. Lebih lanjut ditambahkan bahwa dalam kultur skala laboraturium, kesterilan alat, bahan dan air media yang akan digunakan sangat dibutuhkan sehingga bebas dari kontaminasi organisme lain seperti jenis fitoplankton lainnya, zooplankton, protozoa dan bakteri yang bisa menjadi kompetitor dan predator bagi fitoplankton yang dikultur.
Kultur Oscillatoria sp.  skala laboraturium dilakukan dengan beberapa tahapan yakni tahap isolasi, kultur di media agar dan kultur di media cair.  Kultur Oscillatoria sp.  di media cair dilakukan secara bertahap atau dilakukan dengan kultur bertingkat dimulai dari kultur dalam tabung reaksi volume 10 ml (test tube) sampai kultur pada wadah yang lebih besar mulai dari 100 ml – 5 liter (isnansetyo dan kurniastuty, 1995).  Selanjutnya dikemukanan bahwa sebelum dilakukan penebaran bibit/inokulum, air media yang telah disterilkan perlu dipupuk terlebih dahulu.
            Menurut Gusrina (2008), penebaran bibit fitoplankton harus dilakukan secara tepat, dimana bibit yang akan ditebar ke dalam media harus yang sudah dewasa.  Volume bibit atau jumlah bibit yang yang dibutuhkan untuk penebaran dapat dihitung dengan rumus :


V1N1= V2N2
Dimana :
V1 : Volume bibit yang diperlukan (ml)
V2 : Volume kultur yang dibuat dalam gelas erlemeyer (ml)
N1 : Jumlah bibit per cc yang ditebar (sel/ml)
N2 : Jumlah bibit yang dikehendaki (sel/ml).
2.4. Komposisi dan Kelimpahan Plankton
Penyebaran fitoplankton lebih merata dibandingkan dengan zooplankton karena kondisi perairan yang memungkinkan produksi fitoplankton seperti sifat fototaksis positif yang dimiliki dan menyenangi sinar dan mendekati cahaya. 
Siklus pembelahan sel pada fitoplankton relatif lebih singkat daripada zooplakton. Sehingga untuk mencapai jumlah yang banyak bagi zooplankton diperlukan waktu yang lama. Selanjutnya dikatakan bahwa copepoda merupakan hewan pemakan fitoplakton yang sangat efisien dan ternyata dapat menurunkan kepadatan populasi fitoplankton secara mencolok di perairan (Nybakken, 1992).

2.5.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyebaran Plankton
2.5.1. Suhu
Suhu di lautan adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun perkembangan dari organisme.  Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis hewan yang terdapat di berbagai tempat di dunia (Hutabarat dan Evans, 1985).
Suhu mempengaruhi daur hidup organisme dan merupakan faktor pembatas penyebaran suatu jenis dalam hal ini mempertahankan kelangsungan hidup, reproduksi, perkembangan dan kompetisi (Krebs, 1985). Sedangkan menurut Dawes  (1981) suhu yang baik bagi biota laut untuk hidup normal adalah  20 -35 ÂșC dengan fluktuasi tidak lebih dari 5 ÂșC. Menurut Ray dan Rao (1964) dalam Dawson (1979) suhu yang baik untuk kelimpahan zooplankton di daerah tropika secara umum berkisar antara 24˚C – 30˚C.

2.5.2.  Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam air laut. Konsentrasi ini biasanya sebesar 3% dari berat seluruhnya atau sering juga disebut bagian perseribu (permil) dan biasa ditulis dengan 35‰ (Sachlan, 1982).
Hampir semua organisme laut dapat hidup pada daerah yang mempunyai perubahan salinitas yang sangat kecil, misalnya daerah estuaria adalah daerah yang mempunyai salinitas rendah karena adanya sejumlah air tawar yang masuk yang berasal dari daratan dan juga disebabkan karena adanya pasang surut di daerah ini kisaran salinitas yang normal untuk kehidupan organisme di laut adalah berkisar antara 30 35  ppm (Gosari, 2002).
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme terjadi di zona intertidal melalui dua cara.  Yang pertama karena zona intertidal terbuka pada saat pasang surut dan kemudian digenangi air atau aliran air akibat hujan lebat, akibatnya salinitas akan turun secara drastis (Nybakken, 1992).

2.5.3. Potensial Hidrogen (pH)
   pH adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan suasana air tersebut, apakah bereaksi asam atau basa. Skala pH mempunyai deret 1-14, dan pH 7 adalah netral berarti air tidak bersidat asam atau basa. Bila materi pH dibawah 7 berarti asam dan bila diatas 7 berarti basa pH merupakan pengukuran asam atau basa suatu larutan.  Keasaman terjadi karena berlebihnya ion H+ pada suatu larutan, sedangkan alkalinitas terjadi karena berlebihnya ion OH- pada suatu larutan.  Potensial hidrogen atau sifat keasaman atau basa (alkalinitas) suatu larutan sangatlah penting dalam faktor kelarutan dalam air laut terutama terhadap pengendapan mineral atau unsur-unsur dan kehidupan organisme pada suatu kondisi tertentu (Hutabarat dan Evans, 1985). Menurut CHALIK (1988.)

2.5.4. DO
Oksigen yang terdapat dalam air laut terdiri dari dua bentuk senyawa, yaitu terikat dengan unsur lain dan sebagai molekul bebas.  Kelarutan molekul oksigen yang terdapat dalam air laut dipengaruhi secara fisika, sebagai contoh kelarutannya sangat dipengaruhi oleh suhu air. Sumber utama oksigen dalam air laut berasal dari udara melalui proses difusi dan dari hasil fotosintesis fitoflankton pada siang hari faktor-faktor yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam air laut adalah kenaikan suhu air, respirasi (khususnya malam hari), adanya lapisan minyak di atas permukaan air laut dan masuknya limbah organik yang mudah terurai (Hutagalung et al., 1997).
            Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Pada perairan tawar, kadar oksigen terlarut bekisar antara 15 mg/L pada suhu 0oC dan 8 mg/L pada suhu 25oC. Kadar oksigen terlarut pada perairan alami biasanya kurang dari 10 mg/L (Effendi, 2003). Hubungan antara konsentrasi oksigen terlarut dalam air dan kondisi ikan di dalamnya menurut Erna et all., (1998),
     









                                                       III. METODE PENELITIAN

3.1.  Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2013. Penelitian bertempat di Laboratorium Plankton dan Kualitas Air Balai Penelitian dan Pengembangan  Budidaya Air Payau (BPPBAP), Maros.
3.2.   Materi Penelitian
      3.2.1.   Organisme Uji
      Organisme uji yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah diatom jenis Oscillatoria sp.
      3.2.2.  Bahan dan Alat
                 Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2:
Tabel 1.  Bahan yang di gunakan dalam penelitian.
No
             Jenis bahan
                           Kegunaan
1.
2.
3.
4.
Oscillaoria sp
Air laut steril 30‰
Air tawar / aquades
Etanol
Sebagai organisme uji
Media kultur Oscillatoria sp
Untuk menetralisir alat

Untuk mengawetkan  Oscillatoria sp




Tabel 2.  Jenis alat dan kegunaannya dalam penelitian.
No
               Jenis alat
              Kegunaan
1.
2.
3.
4.

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.


27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.
Spidol snowman
Witeboard
Blower
Tabung karbondioksida (CO2) konsentrasi 750 ppm dan 1000 ppm

Kabel listrik

Toples kaca / plastik
Stiropoam

Slang aerasi

Batu aerasi

Krang aerasi

Spoit

Lakban warna kuning

Gunting

DO meter

pH meter

Thermometer

Automatic aquarium heater
Talenan
Gelas ukur

Cover glas      

Mikropipet

Botol sampel

Mikroskop Olympus BX 40

Stapol

Adaptor

Haemocytometer


Kaca preparat kecil

Tissue

Kanebo

Buku

Pensil

Hand caunter (alat hitung)
Calculator






Alat penanda label
Papan untuk menulis penjelasan penelitian
Menyuplai oksigen
Menyuplai CO2

Penyambung listrik untuk blower
Wadah pemeliharaan Oscillatoria sp
Tempat penyimpanan wadah/toples
Penyuplai aerator
Penghasil gelembong CO2
Untuk mengatur besar kecilnya aerator
Alat untuk mengambil sampel
Sebagai label setiap toples
Untuk memotong alat
Untuk mengukur konsentrasi oksigen terlarut
Untuk mengukur derajat keasaman
Mengukur suhu
Untuk menaikkan suhu

Untuk menyipan botol sampel

Tempat air pembilas haemocytometer
Gelas penutup sampel
Alat pengambil sampel
Alat menyimpan sampel
Alat untuk mengamati Oscillatoria sp
Alat bantu monitor mikroskop

Alat bantu monitor mikroskop

Alat  menghitung kepadatan  Oscillatoria sp

Penutup haemocymeter
Untuk membersihkan haemocytometer
Untuk membersihkan alat
Tempat untuk mencatat hasil
Untuk mencatat hasil
Sebagai alat menghitung kepadatan Oscillatoria sp
Alat untuk hasil akhir kepadatan Oscillatoria sp








3.3.  Metode Penelitian
    3.3.1.  Perlakuan
         Perlakuan yang akan dicobakan selama penelitian adalah :
    Perlakuan A : suhu 300 Celcius
    Perlakuan B : suhu 320 Celcius
    Perlakuan C : suhu 340 Celcius
 30                           






3.3.2.  Cara Kerja
            Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan wadah dan peralatan yang akan digunakan.  Wadah yang digunakan berupa toples plastik berkapasitas 2  liter, wadah dan peralatan yang akan digunakan terlebih dahulu dicuci dengan menggunakan deterjen dan kaporit sebanyak 100 ppm.  Selanjutnya  wadah dan peralatan tersebut dinetralkan dengan natrium thiosulfat 50 ppm.
            Wadah yang telah disiapkan diisi dengan air laut steril sebanyak 1000 ml.  Setelah itu dilakukan penebaran bibit Oscillatoria sp.  sebanyak 80 x 104 sel/ml untuk setiap wadah penelitian.  Hal ini sesuai dengan pendapat Nukiyama (1976) dalam Muhaimin (2008) bahwa dalam kultur Oscillatoria sp.  digunakan air laut sebanyak 80 – 90% dengan padat penebaran awal 100.000 – 800.000 sel/ml.  Wadah tersebut kemudian diletakkan pada rak-rak (styropoam) kultur lalu diberi pencahayaan dengan lampu TL 20 watt sebanyak 2 buah untuk setiap perlakuan.  Selama penelitian berlangsung wadah ditutup dan air medianya diberi aerasi terus menerus untuk menghindari pengendapan Oscillatoria sp., dan juga untuk menyuplai CO2.

3.3.3 Rancangan Percobaan
      Rancangan percobaan yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak  menggunakan 3 perlakuan dengan  3 ulangan, sehingga banyaknya satuan percobaan adalah 9 unit.



3.4 Parametar yang Diamati
3.4.1 Kepadatan Oscillatoria sp.
         Pertumbuhan fitoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah banyaknya jumlah sel (kepadatan sel) (Takdir, 1990).  Pertumbuhan populasi Oscillatoria sp.  pada penelitian ini dilakukan setiap 24 jam sekali dengan mengambil air sampel sebanyak 1 ml/unit percobaan.
Untuk menghitung kepadatan sel Oscillatoria sp., digunakan haemocytometer.  Mula-mula air sampel atau  plankton tersebut diambil dengan menggunakan pipet kemudian diberi etanol untuk mengawetkan atau mematikan sel Oscillatoria sp sebelum diteteskan diatas haemocytometer untuk memudahkan perhitungan, selanjutnya kepadatan sel dihitung dibawah mikroskop Olympus BX40 yang dilengkapi monitor  dengan bantuan alat penghitung (hand counter).  Kepadatan sel populasi Oscillatoria sp.  Untuk setiap ml nya dihitung dengan menggunakan rumus menurut Mudjiman (2007 ).

∑Sel/ml = N x 104
Dimana : N = jumlah rata-rata sel.
3.4.3.  Pengukuran Kualitas Air
           Parameter kualitas air yang diamati dalam penelitian ini adalah Suhu, pH, dan  DOmeter. Parameter kualitas air, alat yang digunakan, dan waktu pengamatan tercantum pada Tabel 3. berikut :

Tabel 3.  Parameter Kualitas Air yang Diukur ,
 Alat/Metode yang Digunakan, dan Waktu Pengamatan Selama Penelitian
No
Parameter
Metode
Satuan
Alat ukur
1.     
Suhu DO
Pembaca skala
ÂșC
Termometer
2.
DO
Pembaca skala
mg/l
DO Meter
3.
pH
Pembaca skala
   -
pH meter
4.
Suhu termometer
Pembaca skala
mg/l
     -


3.5 Analisa Data
Jika terdapat pengaruh nyata dari perlakuan yang diberikan, maka akan dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur).











                                              DAFTAR PUSTAKA

Cahyaningsih, S., Achmad, N.,Sugeng, J.P., 2005.  Kultur Murni Phytoplankton. Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Budidaya Air Payau Situbondo.
Dawes, 1981. Pakan Ikan Alami. Kanisius. Yogyakarta.

Dawson 1979. Kultur Plankton-BBAP. Ditjen Perikanan. Jepara.

Effendie, M. I., 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.
Effendi,H. 2003. Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta

Erna, et. All. 1998. Studi Ekologi Fitoplankton di Waduk Wonorejo Desa Wonorejo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang

Foog, G. F, 1965.  Algal culuters and phytoplankton ecology.  The University of Wisconsin Press, London. 126 hal. 

Gusrina, 2008.  Budidaya Ikan Jilid II.  Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Gosari, 2002. Teknik Kultur Phitoplankton dan Zooplankton.  Penerbit Kanisius.

Hutabarat,Sahala. 1985 .Pengantar oceanografi. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Hutabarat, Sahala dan Stetwart M. Evans. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Hutagalung et al., 1997.  Pengaruh Dosis Abu Sekam Padi Terhadap Pertumbuhan Oscillatoria sp. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia, Makassar.

Isnansetyo, A dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phitoplankton dan Zooplankton.  Penerbit Kanisius.
Kreps, 1985. Pengaruh Beberapa Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Oscillatoria sp.  Fakultas Pasca Sarjana. Istitut Pertanian Bogor.

Mudjiman, A., 2007. Makanan Ikan Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nybakken, James W, 1992. Biologi laut,suatu pendekatan ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Sudjiharno, 2002. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Budidaya Laut Lampung.
Surosos, A.  Y.  2007.  Budidaya Fitoplankton Departemen kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Budidaya Laut Lampung.
             
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. UNDIP: Semarang.
Takdir, 1990. Pengaruh Abu Sekam Padi Terhadap Pertumbuhan Oscillatoria sp. Jurnal  Penelitian Budidaya Pantai, Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai.Maros.





 wal hasil



Suhu dan oscill
DATA KEPADATAN SEL HARIAN FITOPLANKTON (SEL/mL)   
NO    KODE    KEPADATAN HARIAN OSCILLATORIA (SEL/mL); AWAL 3X105 SEL/L   
        HARI-1    HARI-2    KE-3    KE-4    KE-5    KE-6    KE-7    KE-8   
1    385+30.1    1350000    1432000    1625500    1682500    1402500    1282500    1115000    1096500   
2    385+30.2    1400030    1716000    1825700    1840200    1540180    1460500    1245000    1001450   
3    385+30.3    1347500    1602500    1707500    1945000    1465400    1207040    1121000    1010540   
4    385+32.1    1227500    1820500    2427500    2745000    1860500    1406800    1361000    1120060   
5    385+32.2    1234250    1544320    1744350    1772430    1675500    1354400    1392500    1155430   
6    385+32.3    1100030    1116000    1225700    1840200    1540180    1460500    1245000    1001450   
7    385+34.1    1082500    1227500    1214500    2905000    2420000    2105000    1395000    965510   
8    385+34.2    1078220    1171750    1220100    2372600    1977500    1644300    1450000    1022400   
9    385+34.3    983300    1099800    1347500    1687700    1442500    1633500    1137500    608250